header mandadee

Mendidik anak ala Rasulullah : Mendidik dengan Hukuman

16 comments
Konten [Tampil]
mendidik anak ala rasulullah


Mendidik anak ala Rasulullah adalah cara mendidik yang patut diikuti. Betapa tidak, Rasulullah adalah panutan bagi kita semua. Seorang Rasul yang dicintai oleh Allah. Siapa yang tak ingin menumbuhkan akhlak anak kita sesuai dengan tauladan Rasulullah?

Sebagai orang tua baru, tentu saya merasa perlu banyak belajar bagaimana caranya mendidik anak-anak. Jangan sampai, ketidaktahuan saya dalam mendidik, mengorbankan anak-anak dan berujung penyesalan. Terlebih lagi, kita yang masih terbayang-bayang karakter mendidik orangtua kita.

Boleh jadi, bagaimana orangtua kita mendidik menjadi acuan sebagai cara kita mendidik. Mungkin karena kita terbiasa didik oleh orangtua dengan cara A, kita lakukan persis pada anak-anak kita. Sebaliknya, mungkin juga dengan melihat cara mendidik orangtua kita, kita bisa memilah mana yang dampaknya baik dan mana yang berdampak buruk untuk mendidik anak-anak.

Lalu sebenarnya bagaimana cara mendidik anak yang seharusnya? Tentu, untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu banyak belajar, banyak referensi bacaan, dan sebagainya yang bisa menjadi acuan cara kita mendidik agar kita tidak menjadi toxic parents. Prophetic Parenting menurut saya adalah cara mendidik terbaik.

Tahun lalu, ketika saya mengikuti kelas online Sekolah Orang Tua, salah satu materi yang disampaikan adalah tentang “mendidik anak dengan hukuman”. Ini adalah salah satu metode parenting yang digunakan oleh Rasulullah. Bagaimana bisa hukuman menjadi alat untuk mendidik? Simak, yuk!

Menghukum sebagai Metode Mendidik Anak Ala Rasulullah

Pada awalnya, saya merasa sedikit terganggu dengan judul materi ini. Menghukum anak? Ya, karena saya adalah salah satu orang tua yang paling takut menghukum anak. Mungkin karena saya terlalu banyak menonton drama Korea thriller di mana diceritakan bahwa kebanyakan psikopat itu terlahir karena masa kecil terlalu banyak mendapat hukuman yang mengerikan dari orangtuanya dan lingkungan yang tidak baik. hihi

Namun, materi ini semakin membuat saya penasaran. Saya yakin, tidak mungkin apa yang Rasulullah ajarkan adalah salah. Untuk itu, saya perlu tahu hukuman yang seperti apa?

“Barang siapa yang memberikan pendidikan dan pengajaran yang layak kepada anaknya tentang berbagai perbuatan terpuji dan sikap yang baik di masa kecilnya, dia akan tumbuh dengan akhlak baik tersebut, mendapatkan kemuliaan dan kecintaan serta dapat mencapai puncak kebahagiaan. Namun, barang siapa yang meninggalkan semua itu dan tidak menghiraukannya, akibatnya sangat fatal.”

Mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupannya dengan akhlak yang baik serta bisa mencintai agamanya adalah kewajiban kita sebagai orang tua. Yang mana nantinya, kita akan dimintai pertanggung-jawaban atas hal tersebut. Oleh karena itu, menanamkan akhlak dan kebiasaan baik sudah seharusnya kita lakukan sedari mereka kecil.

Ketika anak melakukan kesalahan, jangan sekali-kali memaklumi kesalahannya tersebut. Namun, bantu anak-anak untuk mengetahui konsekuensi dari kesalahan yang ia perbuat. Salah satunya adalah dengan memberinya hukuman. Kenalkan hukuman sebagai konsekuensi yang harus mereka tanggung atas kesalahannya.

Namun, jangan pernah menganggap bahwa hukuman merupakan pembalasan dendam kita sebagai orangtua kepada anak-anak. Hal itu akan menimbulkan efek negatif bagi mereka. Memberi hukuman juga ada tahapan dan syaratnya.

A. Bertahap dalam Menghukum Anak

Dalam Islam, menghukum anak ada tahapannya. Tidak semerta-merta menghukum tanpa melihat apa kesalahannya dan berapa usianya. Apabila anak tidak bisa diberi tahu baik dengan lisan ataupun mempraktikkannya secara langsung, dan terus menerus mengulang kesalahan yang sama, maka anak harus di hukum.

Beberapa tahapan dalam menghukum, diantaranya :

1. Memperlihatkan cambuk pada anak

Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab al-Adal al-Mufrad dari Ibnu Abbas ra, yang artinya: “Gantungkanlah cambuk di tempat yang dapat dilihat oleh seluruh anggota keluarga, sebab itu lebih dapat membuat mereka munurut”. Mayoritas anak takut melihat cambuk atau alat hukuman lainnya. Oleh karena itu, hanya dengan memperlihatkannya kepada mereka, cukup untuk meluruskan dan mengoreksi kesalahan mereka.

2. Menjewer daun telinga

Menjewer daun telinga adalah hukuman fisik pertama untuk anak. Pada tahap ini, anak mulai mengenali kepedihan akibat melakukan kesalahan, yaitu telinganya dijewer.

3. Memukul anak

Apabila melihat cambuk atau tongkat tidak berhasil, dan menjewer telinga juga tidak membawa dampak yang positif, sementara anaka terus nakal dan melakukan kesalahan yang sama, maka tahap ketiga ini diharapkan dapat meredam kenakalannya. Tetapi, pemukulan hanya dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu agar memberikan hasil yang maksimal dan benar.

Agar tidak salah kaprah dalam kebolehan memukul, ada beberapa hal yang harus diperhatikan kita sebagai orang tua, yaitu:

- Memukul dimulai dari usia sepuluh (Penetapan usia memukul)

Berdasarkan hadist Nabi, yang artinya : “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat pada usia tujuh tahun, pukullah mereka bila meninggalkan shalat pada usia 10 tahun”. Hadits tersebut menyatakan bahwa dibolehkan memukul anak setelah usia 10 tahun. Hal ini dikerenakan dia meninggalkan kewajiban agama yang seseorang di hari kiamat akan dimintai pertanggung jawabannya.

Sebuah jurnal mengatakan bahwa di dalam hadits Al Hambali (1/506) dikatakan Apabila anak itu masih terlalu kecil dan belum berakal, maka tidak boleh dipukul. kebolehan memukul tidak hanya harus memenuhi sejumlah aturan dan tahapan, akan tetapi orangtua juga harus memperhatikan bagaimana perkembangan gerak-gerik anaknya sebelum memukulnya, seperti:

a. Sebelum usia 2 tahun, anak belum mengetahui gerakan-gerakan bersifat reflek.
b. Pada usia 2-3 tahun, anak sudah mampu bergerak sebagai reaksi pikirannya terhadap rangsangan sesuatu di luar dirinya.
c. Pada usia 4-7 tahun, mampu bergerak sebagai reaksi pikirannya terhadap rangsangan sesuatu di luar dirinya.
d. Pada usia 7-10 tahun, masa anak beradaptasi dengan lingkungan.
e. Pada usia 10-12 tahun, masa anak berinteraksi, anak mulai gemar berkelompok dan bekerjasama.
f. Pada usia 12-14 tahun, masa awal pencarian jati diri.

- Batas jumlah pukulan

Jumlah pukulan dalam keadaan apapun tidak boleh lebih dari sepuluh kali. Hal ini berdasarkan hadits yang artinya: “Tidak boleh dicambuk lebih dari sepuluh cambukan selain pada hukuman hadd” (HR Bukhari).

- Tidak boleh memukul disertai amarah

Tanda-tanda seorang marah biasanya adalah dimulai dengan caci maki kepada anak. Oleh karena itu, al-Qabisi dalam risalahnya mewasiatkan untuk menjauhi hal tersebut. Ketika anak banyak melakukan kesalahan, maka harus dikoreksi dengan perkataan yang tegas, tanpa disertai caci-maki, seperti perkataan orang yang yang tidak mengindahkan hak seorang anak muslim. Perkataan dan caci-maki itu mengalir dari lidah, karena kemarahan sudah menguasai diri. Padahal bukan disitu letak kemarahan yang benar.

- Area Pukulan

Memukul hendaknya pada area yang memiliki banyak daging. Tidak boleh dikepala ataupun bagian tulang kering.

- Alat yang digunakan

Alat yang digunakan tidak menyakiti sang anak. Misalnya saja jika menggunakan bambu, maka bambu tersebut dipotong tipis-tipis.

B.   Manfaat Menghukum Anak

Beberapa manfaat dalam menghukum anak adalah sebagai berikut :

1. Membuat anak jera
2. Membuat anak bersikap jujur
3. Mendisiplinkan anak
4. Membentuk anak kita agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tahu memilih mana yang baik dan buruk dengan segala konsekueinsinya
5. mengajarkan anak-anak tentang akibat-akibat yang didapatkan akibat perilaku yang tidak benar

C. Cermat dalam Menghukum Anak

Kenapa harus cermat dalam menghukum anak? Agar manfaat dalam menghukum anak dapat dirasakan secara maksimal, maka sebagai orang tua kita harus cermat dalam menghukum anak. Dengan kecermatan, akan menghambat timbulnya pengulangan tingkah laku anak yang tidak kita harapkan, membantu tentang salah dan benar, serta dapat memperkuat motivasi untuk menghindarkan diri dari prilaku yang tidak diharapkan.

Sebaliknya, apabila kita tidak hati-hati, tidak cermat dalam menghukum anak, membuat hukuman yang diberikan tidak dapat memberikan manfaat dalam mengoptimalkan perkembangan moral anak. Mengakibatkan timbulnya efek negative pada anak, seperti penakut, kenakalan anak semakin menjadi, nakal, minder, acuh tak acuh, dll.

Nah, berikut ini adalah tips dari sahabat Nestle yang dapat dijadikan pedoman agar kita bisa bertindak cermat dalam menghukum anak :

1. Buat kesepakatan dengan pasangan dan anak mengenai aturan yang harus dipatuhi anak atau hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak. Karena sejatinya, kita sebagai orangtua adalah yang paling paham kondisi anak kita.

2. Bersifat impersonal: hukuman tidak ditujukan kepada anak sebagai pribadi tapi lebih pada perbuatannya yang salah. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa hukuman bukanlah karena dendam pada anak, tetapi karena perbuatannya yang salah.

Misalnya jangan katakan "ibu benci sama kamu, kamu anak nakal susah dibilangin", tapi lebih baik katakan "ibu tidak senang dengan tingkah lakumu yang suka melempar-lempar mainan".

3. Pemberian hukuman dilakukan segera setelah anak melakukan pelanggaran sehingga anak bisa melihat kaitan yang erat diantara keduanya.

4. Konsistensi perlakuan. Hukuman tetap diberikan setiap kali anak dengan sengaja melakukan tingkah laku yang tidak sesuai dengan aturan atau kesepakatan. Jangan hari ini diberikan hukuman tapi pada hari lain tidak diberi hukuman.

5. Hindari pemberikan hukuman fisik atau psikis yang dapat melukai fisik maupun perasaan anak. Di sini, kesabaran dan pengendalian emosi kita sebagai orang tua sangat dibutuhkan. Jangan sampai kita melampiaskan kekesalan pada anak, saat kita dlam kondisi yang tidak baik. Jika berada dalam kondisi seperti itu, alangkah baiknya kita tinggalkan anak dahulu untuk sementara. Menarik nafas dalam-dalam atau berwudhu dulu agar bisa lebih tenang dan dapat berfikir bijaksana.

6. Bersikap tegas dan bersungguh-sungguh dalam menegakkan aturan. Jangan karena anak merajuk, mencium atau berusaha mengambil hati kita, akhirnya membuat kita luluh dan bersikap longgar terhadap aturan yang sudah disepakati. Nah, sebenarnya ini hal yang cukup sulit buat saya, hihi.

7. Pemberian hukuman hendaknya juga diimbangi dengan pemberian pujian di saat lain di mana anak mematuhi aturan yang ada.

8. Berikan hukuman sesuai dengan usia dan kondisi anak. Bila terlihat bahwa anak makin rewel dan tidak bisa diam karena hukuman yang diberikan terlalu lama, maka kita bisa memperpendek waktu hukumannya.

9. Jelaskan kepada anak, alasan mengapa ia mendapat hukuman. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat belajar mengembangkan hati nuraninya sehingga kelak dapat mengembangkan kontrol dari dalam dirinya sendiri.

Memberi hukuman pada anak adalah metode mendidik anak ala Rasulullah. Artinya, menghukum anak dilindungi oleh syariat Islam. Asalkan, kita paham tahapan dan kondisinya, serta cermat dalam menghukum anak. Sebagaimana tujuan menghukum anak adalah untuk menghindarkan anak dari perilaku yang tidak diharapkan. Semoga bermanfaat ya, moms!
Manda Dea
I live my life a quarter mile at a time

Related Posts

16 comments

  1. terima kasih banyak kak, dengan membaca ini ilmu parenting saya bertambah lagi, saya jadi tahu kapan harus menghukum anak-anak dan denganc ara yang harus bagaimana, izin save ak artikelnya

    ReplyDelete
  2. Saya baru paham tentang hukuman bagi anak ini Mbak. Memang yang berat itu menghukum tanpa disertai dengan emosi. Murni hanya untuk mengajarkan mana yang benar dan salah dan harus di usia yang tepat ya..

    ReplyDelete
  3. Indahnya pengasuhan dengan meniru Nabi Muhammad sholallahu 'alaihissalam, manusia sempurna dari akhlak hingga adab. Memang menjadi orangtua yang memberikan contoh hingga anak-anak tumbuh mandiri dan bertanggungjawab untuk segala urusan dirinya sendiri, terutama dalam hal ibadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

    ReplyDelete
  4. Kesepakatan sama anak justru malah melahirkan kedisiplinan. Karena anak tahu kalau melanggar ia akan kena hukum ini itu. Akhirnya anak pun berusaha tidak melanggar

    ReplyDelete
  5. Bacanya jadi pengingat diri dan merembet ke artikel mana mana. makasi ya mba... masih betah main rumahnya.

    ReplyDelete
  6. duh, masih belajar tentang membenci perbuatan tp tidak orangnya.. terimakasih mba dee, semoga Allah selalu membimbing

    ReplyDelete
  7. Aku juga pernah baca artikel sejenis, Mbak. Disana juga dikatakan, tidak boleh memukul anak dengan keras.

    ReplyDelete
  8. Semoga bisa menjalankan parenting sesuai ibadah agamanya ya, Mbak. Agar anaknya jadi anak berbakti dan bermanfaat bagi sesama.

    ReplyDelete
  9. Kadang hukuman dibilang ngga bagus ya mba untuk anak, tapi aku setuju sih sama metode reward and punishment seperti yang pernah dicontohkan Rasulullah dan juga AlQuran, ini efektif dan bisa dirasakan manfaatnya sampai anak gede

    ReplyDelete
  10. Saya kayaknya kalau naruh cambuk agak takut deh, mbak. Kalau soal marah dan memukul anak jujur sebagai orang tua saya pernah kelepasan memukul mereka karena tersulit emosi.

    ReplyDelete
  11. Sudah paling tepat kalau Kita mendidik anak-anak seperti cara mendidiknya Rasulullah ya mbak. Trims artikelnya ya mbak... Bermanfaat banget

    ReplyDelete
  12. Bener sih, Mbak. Memberikan hukuman perlu ada tahapannya. Kalau seperti pengobatan, harus ada dosis di setiap tahapan usianya. Keren, semoga kita menjadi orang tua yang bertanggungjawab agar selalu belajar dan belajar.

    ReplyDelete
  13. Wah terima kasih atas referensinya mbak, selama ini kadang kalo emosi suka kebablasan tapi setelah itu jadi menyesal banget, ternyata mendidik dalam arti menghukum anak ada adabnya ya.

    ReplyDelete
  14. Wah, kalo tidak ada penjelasan dari memukul ini, bisa salah paham orang ya. Bisa2 rasulullah di cap kejam.
    Tapi Islam sudah mengatur semuanya dgn baik. Makanya membaca hukum sebaiknya tidak sepotong2.

    ReplyDelete
  15. Tidak mudah dengan situasi saat ini, tapi tetap harus mengupayakan demi ridho Alloh

    ReplyDelete

Post a Comment