header mandadee

Cerita Perjalanan Mengenal Blog

Post a Comment
Konten [Tampil]
Hai moms!

Beberapa hari ini, saya sedang mengalami mood block menulis nih, moms. Hihi… Oleh karenanya, kali ini saya ingin mengisi tulisan saya dengan curhatan dulu. Siapa tau, jadi pemantik bagi saya untuk kembali menulis informatif. Hehe

Yah, hitung-hitung saya sedang melakukan free writing yang moms. Nah, kali ini saya ingin menceritakan perjalanan saya mengenal blog.

My Blogging Journey

Beberapa hari lalu, ketika saya memposting tulisan saya dalam status WhatsApp story, teman kuliah saya membalasnya dengan mengatakan, “ Mba Dee… Ajarin nge-blog, dong!”.

Ah, sesungguhnya saya selalu bahagia ketika ada teman yang ingin mempelajari sesuatu. Seperti blogging, misalnya. Tak sedikit sebenaranya teman-teman saya meminta untuk diajarkan nge-blog. Meski saya bukan seorang expert, tetapi saya selalu exicted mendengarnya, “Yuk.. nge-blog yuk!”.

Usut punya usut, ternyata teman saya ini saat kuliah sudah mulai nge-blog. Nah, dari percakapan kami tentang blogging saat kuliah inilah yang membuatku flashback kembali bagaimana aku kenal dunia blogging.

Di Tengah Gempuran Facebook

Sekitar 2009-2010, Facebook merupakan media sosial yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia baik itu untuk interaksi sosial, chatting, sampai dengan bermain games. Ya, saat itu Facebook menjadi media sosial ternyaman bagi kami dengan berbagai fiturnya, setelah sebelumnya Friendster menjadi media sosial pertama yang saya gunakan.

Salah satu fitur dalam Facebook yang sering saya gunakan adalah fitur notes, di mana saya bisa menulis panjang, seperti surat curhatan, menulis puisi, dan lain sebagainya. Kebetulan, fitur notes ini bisa bisa tersimpan seperti album foto, jadi tidak tertimbun dengan status-status Facebook. Meskipun sekarang entah ke mana perginya fitur notes, yang artinya entah juga di mana tulisan-tulisan dalam notes yang pernah saya buat, hihi.

Nah, singkat cerita, teman gaul saya asal Kalimantan Selatan itu, yang mana pada masa itu dia sudah mengenal berbelanja online di Amazon, mengatakan “Kamu kenapa gak bikin blog aja? Nulis aja di sana.”

Dia kemudian menunjukan blog milikinya. Tulisan-tulisannya berisi pupisi dan lagu-lagu ciptaannya. Dengan background blog hitam, bernuansa Rock. Ah, dia memang ahlinya media sosial deh. Saya kemudian menjadi semakin penasaran, dan memintanya mengajari saya membuat blog.

Yang membuat saya semakin mantap membuat blog juga karena Sherina Munaf, yang aktif membagikan ragam ceritanya ke dalam blog.

Ketika itu saya berpikir blog bisa menjadi rangkaian perjalanan yang kita lakukan sehari-hari alias buku diary. Hihi. Alhasil blog yang baru saja saya buat, saya lupa apa nama blognya, berisi tentang curhatan apa yang sedang saya rasakan, dan beberapa puisi. Teman saya yang membacanya hanya bisa tertawa melihat tulisan-tulisan saya itu, hahaha. Memang kalau diingat, katanya orang Jatim sih, “Nggilani!”

2014 : Mengenal Wordpress

Tahun 2014, saat kembali ke Yogyakarta setelah wisuda di tahun 2013, saya bertemu dengan teman SMA yang mana masih melanjutkan study di salah satu Universitas swasta di Yogyakarta. Dia meminta izin untuk menyelesaikan tulisannya dahulu.

“Itu bukan blogspot ya?” tanyaku penasaran sembari melihat layar laptop yang memunculkan dashboard Wordpress.

“Bukan, saya pakai Wordpress. Sama sih, dengan blospot. Cuma tulisannya lebih tertata saja.” jawabnya menjelaskan.

Melihat dashboard Wordpress sepertinya lebih sulit dibandingkan Blogspot. Begitu kiranya yang saya pikirkan. Namun, yang saya garis bawahi di sini adalah selain mengenal platform lain selain blogspot, ternyata saya juga mulai tercerahkan lagi tentang fungsi blog. Bukan sekadar untuk curhatan hihi.

Ya, teman saya tersebut memanfaatkan blognya untuk memperkenalkan kaos-kaos sablon yang ia buat sendiri, dengan kata lain blog dimanfaatkan untuk pemasaran. Ada juga, salah satu teman kuliah saya lainnya, yang ternyata aktif di dunia blogging, memanfaatkan blog sebagai edukasi di bidang Teknik Sipil, bidang yang memang menjadi keahliannya (jurusan kuliah yang ia ambil).

Travel Blogger

Tahun 2015 saya merantau ke Bali untuk mengerjakan proyek konstruksi. Bali, sebagai tempat impian, saya merasa sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk tinggal di sana. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Bali, saya sudah bertekad tak ingin menyia-nyiakan waktu saat berada di Bali. Saya ingin menghabiskan tempat wisata Bali selama saya berada di sana.

Namun, sebagai pendatang baru, saya tidak memiliki banyak informasi tentang wisata Bali yang saya cari baik di google maupun media sosial. Tahun 2015 media sosial memang sudah beragam, intagram dan Path sedang booming saat itu. Akan tetapi, tidak seperti saat ini yang mau cari apa saja ada di Instagram, di tahun 2015 Instagram tak se-informatif saat ini.

Oleh karenanya, aku berinisiatif untuk membuat blog lagi dengan memberikan tulisan-tulisan yang lebih informatif, sebagai guidance mereka wisatawan yang berkunjung ke Bali. Tujuannya, agar tak seperti saya, yang kebingungan saat pertama kali di Bali. Dan lahirnya blog yang kini dikenal sebagai journeyjournalku.com.

Sayangnya, saya terlalu berekspektasi tinggi. Terlalu fokus infografis, foto-foto yang harus di edit dahulu, dan lain sebagainya selain tulisan itu sendiri. Alhasil banyak sekali draft terbengkalai.

Belum lagi, perasaan kecewa ketika mencari di search enginee tidak ada tulisan saya yang muncul. Hihi maklum belum tahu ilmunya. Akhirnya blog saya kembali terbengkalai.

Blosgpedia Coaching

Rasanya mungkin aku ditakdirkan menggeluiti dunia blog. Suatu kali, saya tiba-tiba saja membuka WhatsApp Group yang biasanya jarang sekali saya buka. Di situ ada pemberitahuan coaching blogging dari nol beraama blogspedia. Saat itu kalau tidak salah tahun 2020.

Saya kemudian mengklik form pendaftaran Blogspedia Coaching Batch 1. Sebelum kolom-kolom data yang harus diisi, di sana tertera syarat dan ketentuan mengikuti coaching serta materi apa saja yang akan di dapat. Tak mau pikir panjang, saya pun mendaftarkan diri.

Alhamdulillah, saya pun lolos sebagai peserta blogspedia coaching batch 1. sayangnya, ditengah jalan karena saya harus mengurus pindahan rumah dari Indramayu ke Malang, coaching pun terbengkalai dan saya gagal mengikut sampai dengan selesai.

Tak menyerah di situ, sekitar hampir 1 tahun saya menunggu pendaftaran Blogspedia Coaching Batch 2. hanya berharap Blosgespedia akan membuka kembali di Batch 2. alhamdulillah pendaftaran yang ditunggu pun tiba, dan saya lolos lagi untuk menjadi peserta Blogspedia Coaching Batch 2.

Ah, time flies. Lewat Blogspedia Coaching Batch 2, saya mempelajari banyak hal. Tentunya saya pun tidak ingin melewati kesempatan ini dan gagal lagi di tengah jalan. Meski jalannya tidak mudah, bahkan saya sedang hamil tua saat itu, alhamdulillah saya lulus.

Kini, saya memiliki 2 blog yang sudah berdomain. Bahkan, saya bisa menemukan artikel saya dalam search engine. Melalui blog juga, selain saya menyalurkan kecintaan daya dalam menulis, blog menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga kecil saya. Nah, itu cerita sekilas perjalanan saya mengenal blog, bagaimana dengan momies?


Manda Dea
I live my life a quarter mile at a time

Related Posts

Post a Comment